Belajar Menang Tanpa Mengalahkan



Bel berbunyi menandakan jam pelajaran terakhir telah usai. Namun, wajah beberapa siswa kelas X 7 justru tampak tegang.

 Mereka berkumpul di sudut kelas, membicarakan satu hal: jadwal presentasi proyek akhir yang bertepatan dengan persiapan lomba debat tingkat kabupaten.

“Kalau presentasi tetap hari Jumat, kita tidak sempat latihan debat,” keluh Raka.
“Namun kalau ditunda, kelompok lain bisa protes. Mereka juga punya kegiatan,” sahut Dinda.

Akhirnya, mereka sepakat mengutus Nadia, ketua kelas yang dikenal tenang dan bijak, untuk berbicara dengan Bu Ratna, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Keesokan harinya, Nadia menemui Bu Ratna di ruang guru.
“Bu, kami ingin menyampaikan sebuah usulan,” kata Nadia dengan sopan.
“Silakan, Nadia. Apa yang ingin kamu sampaikan?” jawab Bu Ratna.

Nadia menjelaskan kondisi kelasnya dengan jelas dan jujur. Ia tidak menyalahkan siapa pun, hanya memaparkan fakta: jadwal yang berbenturan, kesiapan siswa, dan keinginan mereka tetap bertanggung jawab terhadap tugas.

“Kami tidak bermaksud menghindari presentasi, Bu,” lanjut Nadia.
“Kami justru ingin memberikan hasil terbaik. Apakah memungkinkan jika jadwal presentasi diatur ulang, misalnya dengan sistem giliran atau ditukar dengan kelas lain?”

Bu Ratna terdiam sejenak. Ia menatap Nadia, lalu tersenyum.

“Saya menghargai cara kamu menyampaikan pendapat. Kamu tidak memaksa, tetapi menawarkan solusi,” kata Bu Ratna.

Setelah berdiskusi bersama wali kelas dan mempertimbangkan kondisi semua siswa, akhirnya diputuskan bahwa jadwal presentasi diundur dua hari. Sebagai gantinya, kelas X 7 bersedia mengumpulkan laporan tertulis lebih awal.

Saat pengumuman itu disampaikan, kelas pun bersorak kecil.
“Negosiasi itu bukan soal menang atau kalah,” kata Bu Ratna di akhir pelajaran.
“Negosiasi adalah seni mencari jalan tengah dengan tetap menghargai semua pihak.”

Comments

Popular posts from this blog