RENCANA TULISAN PERPUSDA 2025

MENULIS BERBASIS BUDAYA LOKAL

Pohon Litaq: Simbol Keharmonisan Adat dan Agama

               


                

Kemanapun kau pergi carilah masjid. Karena disitulah kau akan menemukan cahaya, menemukan kebenaran, menemukan ketenangan, menemukan kedamaian. Kini di masjid hatiku terkait.

 

Sebutan Lombok sebagai kota seribu masjid memang cocok. Jika kita pergi jalan-jalan ke Lombok memang tak sulit untuk menemukan masjid di berbagai tempat. Tak perlu berjalan puluhan kilo untuk mencarinya. Selain itu jarak antara masjid yang satu dengan masjid lainnya juga berdekatan. Bahkan di beberapa tempat ada yang saling berhadap-hadapan.

Aku yang bukan asli orang Lombok dan pertama kali melihat pemandangan seperti ini agak sedikit heran. Tiba-tiba saja aku membayangkan hari Jumat. Ya hari Jumat bagi seorang muslim adalah hari untuk melaksanakan ibadah sholat Jumat ”Saling bersahut-sahutan. Khotbah yang mana yang harus disimak?” pikirku. Dari beberapa informasi, ternyata tidak seperti itu. Khusus untuk sholat Jumat diadakan secara bergantian. Misal sekarang di masjid A, berikutnya di masjid B.

Aku memang bukan asli orang Lombok, asliku Jawa. Tepatnya Jawa Timur. Karena tugaslah aku berada di Lombok. Aku adalah seorang guru. Aku suka jalan-jalan. Kemanapun aku pergi biasanya yang pertama aku cari adalah masjid. Hal ini sesuai pesan ayahku “Nduk, kemanapun kau pergi carilah masjid. Karena disitulah kau akan menemukan cahaya, menemukan kebenaran, menemukan ketenangan, menemukan kedamaian” itu pesan ayah dulu. Karena itulah sampai sekarang tak pernah aku lupa mampir ke masjid ke manapun  aku pergi dan berjalan-jalan. Rupanya hatiku memang benar-benar sudah menyatu dengan masjid sampai akhirnya di masjid hatiku terkait.

Tempat tugas suamiku adalah di Kecamatan Bayan. Tugas pertama tahun 1995.  Bayan adalah daerah paling ujung yang pernah aku datangi. Di desa itu seolah waktu berjalan lambat. Rumah-rumah kayu berdinding bedeq berdiri di atas hamparan sawah dan kebun. Dengan atap dari ilalang. Jarang ada rumah yang berlantai semen. Rata-rata dari tanah. Untunglah di sana jarang hujan hingga jauh dari becek. Penduduknya pun hidup dengan apa adanya. Mereka makan dari hasil kebun. Pasar hanya tersedia seminggu sekali. Di situlah biasanya semua warga saling bertemu, berbelanja dan saling bertukar kabar. Termasuk aku. Selebihnya suasana kampung kembali tenang. Meskipun hidup sederhana, mereka paling suka berbagi. Mereka sering berbagi sayuran, bawang merah, makanan atau hasil panen di kebun miliknya. Dibalik kesederhanaan dan keterbatasan tersimpan ketulusan yang jarang aku temui di daerah lain.

Rata-rata masyarakat Bayan pemeluk agama Islam. Namun Islamnya masih bercampur dengan adat. Mereka terlihat masih memegang adat yang kental yang diwariskan leluhur dan menjunjung tinggi tradisi turun temurun. Di tengah kesederhanaan itu berdiri masjid kuno yang menjadi pusat segala kegiatan masyarakat. Masjid itu bukan hanya untuk tempat ibadah tetapi untuk kegiatan bermusyawarah, belajar agama, dan tempat melaksanakan upacara adat yang memadukan nilai agama dan tradisi.

Masjid Kuno Bayan menjadi lambang kesetiaan masyarakat terhadap ajaran leluhur. Kehidupan mereka yang sederhana, gotong royong dan religius mencerminkan nilai-nilai yang tumbuh di masjid tua itu. Nilai keihlasan, persaudaraan, dan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Tak ada yang bisa menyebut dengan pasti tahun berapa didirikan masjid tersebut. Ada yang bilang dibangun tahun ke 15 masehi. Ada juga yang bilang tahun ke 16 masehi.  Menurut juru kunci masjid tersebut, Raden Abdullah, berdiri sekitar tahun 1500 -an yang didirikan oleh para ulama dan tokoh wetu telu. Letaknya di kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Penyebaran Islam di Bayan berkembang dengan cara damai dan menyatu dengan tradisi adat setempat.

Wetu telu berasal dari bahasa Sasak (Lombok) yang secara harfiah berarti waktu tiga atau “tiga waktu” di sini bukan berarti sholatnya hanya tiga kali, bukan, kata Pak Raden itu. Masyarakat disini memiliki filosofi 3 kehidupan. Bertelur, beranak dan bertumbuh. Artinya ada 3 budaya. Wetu telu adalah sistem kepercayaan dan tata kehidupan religius yang merupakan perpaduan antara ajaran religius. Perpaduan antara ajaran islam, adat lokal, dan kepercayaan pra-Islam. “Ada 3 perjalanan manusia, alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat. Serta ada 3 waktu sholat, yaitu pagi, siang dan malam. Sholat di waktu pagi adalah subuh, sholat di waktu siang adalah Dhuhur dan Ashar dan waktu malam adalah sholat maghrib dan Isyak” katanya menjelaskan.

Sebelum masuk menuju ke pelataran masjid Bayan aku terlebih dahulu disuruh memakai kereng (sarung) oleh juru kuncinya. Bapak penjaga mengucapkan salam sambil memperkenalkan siapa dirinya. “Raden Abdullah” katanya.   

Bangunan masjidnya berukuran 9x9 m2. Bentuk bangunannya bergaya tradisional Sasak. Kenapa demikian? Karena bangunannya terbuat dari bahan-bahan alami dan tampak begitu sederhana.  Dinding Terbuat dari anyaman bambu. Atap terbuat dari belahan bambu yang diletakkan terbalik, agar saat hujan airnya terus bisa meluncur, tidak menggenang. Lantainya terbuat dari tanah yang dipadatkan, dan tiangnya terbuat dari kayu nangka ” imbuh sang juru kunci.




 

Ini kan baru selesai sholat ashar, kenapa di masjid kok sepi? Tanyaku. Mana jamaahnya Mamiq (sebutan yang memiliki gelar raden)? Dengan bahasa yang tertata dan sambil sedikit membungkukkan badan dia menjelaskan bahwa masjid di sini tidak seperti masjid-masjid yang lain. Tidak dipakai sholat berjamaah setiap hari. Hanya waktu-waktu khusus.  Hari raya Idul fitri, Idul Adha, Maulid Nabi dan upacara keagamaan adat wetu telu saja”katanya.

Walaupun disebut sebagai masjid, tetapi fungsinya tidak seperti masjid pada umumnya. Tidak setiap hari masjid tersebut digunakan untuk sembahyang. Masjid ini hanya dipakai pada acara-acara perayaan tertentu saja. Pertama, shalat tarawih di bulan Ramadhan. Kedua Shalat Idul Fitri. Ketiga Shalat Idul Adha. Keempat Pembagian zakat fitrah. Kelima Penerimaan zakat fitrah. Keenam perayaan Maulid nabi Muhammad dan kegiatan keagamaan lainnya. Dari semua perayaan tersebut, Perayaan Maulidlah yang paling besar. Dalam perayaan maulid tersebut terdapat acara adat, atau ada prosesi Maulid Adat,  yang biasanya digelar selama dua hari berturut-turut. Namanya Maulid Adat. 

Maulid Adat ini adalah kegiatan yang paling ramai dibanding kegiatan adat yang lain. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun di bulan Maulid Nabi Muhammad SAW (Robiul Awal). Pusat acara berada di Masjid Bayan, tetapi masyarakat dari berbagai dusun sekitar juga turut serta, sehingga suasananya sangat ramai dan sakral. Beberapa hari sebelum acara, masyarakat Bayan mulai membersihkan masjid dan lingkungannya, menyiapkan persembahan makanan (sesaji tradisional), serta menenun pakaian adat yang akan dipakai saat upacara. Laki-laki: mengenakan sapuk (ikat kepala), baju putih longgar, kain songket, dan sarung poleng (hitam-putih). Perempuan: memakai lambung (baju tanpa lengan hitam), kereng (kain songket warna gelap), serta membawa bakul berisi makanan atau sesaji di atas kepala. Yang laki-laki menyiapkan nasi, ayam, dan lauk pauk khas adat, sedangkan perempuan menyiapkan kue dan buah-buahan” paparnya dengan panjang lebar dan jelas.




 

“Ibu, perhatikan dua pohon paling besar di depan itu!” tunjuk sang juru kunci ke arah dua pohon di depanku. Kenapa, Pak? tanyaku. Itu namanya pohon litaq. Pohon itu usianya sudah ratusan tahun bahkan setua usia masjid ini. Bagi masyarakat Bayan pohon tersebut bukan sekedar pohon biasa. Ia adalah saksi bisu masuknya agama Islam pertama di Bayan. Berdiri berdampingan dengan masjid dan beberapa makam. Pohon tersebut digunakan sebagai peneduh dan pelindung bagi tempat suci masjid. Karena itu pohon tersebut sampai sekarang tidak boleh ditebang atau dirusak, agar kesuciannya terjaga” tutur sang penjaga itu. Konon pohon itu digunakan sebagai sebuah syarat agar masyarakat Bayan masuk Islam. Jika masyarakat mau ke masjid mereka harus melewati pohon Litaq (seperti gambar berikut) terlebih dahulu sebelum mereka menuju ke masjid  dengan mengucapkan dua kalimat sahadat” jelas laki-laki juru kunci itu.  

                        


PROFIL PENULIS

Hj. Maria Ulfa, S.Pd, M.Pd, lahir di Lumajang, 19 Juli 1971. Pendidikan S1 di IKIP Malang (UM). S2 di Universitas Mataram. Sejak tahun 1997 hingga kini ia menjadi guru di SMA Negeri 1 Tanjung Kabupaten Lombok Utara. Di sela-sela kesibukan sebagai pengajar ia juga aktif di Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Lombok Utara. Aktif juga di MUI (Majelis Ulama Indonesia) Lombok Utara sebagai Komisi Pemberdayaan Perempuan dari periode 2020-2025 dan berlanjut periode 2025-2030 mendatang. Surel: mariaulfa97@guru.sma.belajar.id / WA : 085337807840. 

 

 

 

 

    

                                         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog