Sepatu Si Penakluk Dunia

Manusia diciptakan bukanlah untuk menjadi sempurna tapi untuk menjadi berguna

Kota Seribu Masjid adalah sebutan untuk daerah tempat mengajarku. Mengajar anak-anak SMA. Santun dan baik hati banyak menghiasi watak siswa di sana. Maklum, tempatku mengajar jauh dari kota. Tepatnya berada  di pinggiran kota. Pendampingku juga seorang pengajar. Pengajar matematika. Saat itu sebagai seorang guru muda penghasilan kami hanya cukup dipakai untuk makan satu bulan. Untungnya anak-anak masih kecil, kebutuhan belum begitu banyak.


Jarak sekolah cukup jauh dari kota provinsi. Jika kami membutuhkan sesuatu kami harus berjalan  satu jam lamanya. Untuk mencapainya harus melewati lekak lekuk bukit. Bukit yang mirip dengan gunung terlebih dahulu untuk sampai di kota. "Pusuk" orang menyebutnya. Pusuk ini mirip dengan Gumitir jika kita berada di Jawa Timur. Kanan kiri yang terlihat hanya jurang dan hutan.   Pohon enau, duren banyak menghiasi di sepanjang jalan. Pohon- pohon itu berjejer di sisi kanan dan kiri. Pedagang tuak manis juga banyak dijumpai saat memasuki daerah ini. Karena itu gula merah banyak di jual di sepanjang jalan. Gula Aren adalah gula merah dengan kualitas terbaik untuk kesehatan. Gula merah sehat tanpa campuran. Benar-benar gula merah tradisional.   

Tak hanya keindahan alam dan penghasil buah durian dan  minuman tradisional saja,  hewan juga ada. Lutung pusuk alias monyet juga biasa bisa dijumpai saat memasuki daerah pusuk. Monyet-monyet tampak bersahabat, tidak ganas dan jinak. Banyak pengunjung berani jika memberikan makanan langsung tanpa harus dilempar karena monyet-monyet tersebut tidak buas. 

Jarak yang lumayan jauh ini rupanya membawa berkah tersendiri bagiku. Entahlah kenapa aku begitu tertarik ketika memperhatikan sepatu-sepatu anak-anak di sekolah. Walau sekolah tempatku mengajar berada jauh dari kota sepatu yang mereka pakai banyak yang bagus. Tepatnya bermerek. Cara anak-anak berdandan dan berpakaian pun seolah mereka bukan dari daerah terpencil, dari desa. 

Aku yang seorang pendatang sering mengeluh karena jauhnya jika  pergi ke kota. Jauhnya jarak menuju ke kota kurang lebih 1 jam perjalanan. Atau kurang lebih 40 km jika memerlukan  kebutuhan-kebutuhan dapur dengan harga yang lumayan irit. 

Jangan mengeluh kata suamiku. Mengeluh tentang keadaan. Mengeluh karena segala sesuatu yang dibutuhkan tidak dekat. Semua ini tidak bisa menyelesaikan masalah. Jauhnya jarak menuju ke kota jangan dipandang dari sisi negatifnya. Tapi jadikan jarak ini sebagai sebuah karunia Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa. Kenapa keadaan yang seperti ini tidak kita balik saja menjadi sesuatu yang positif?" katanya menasihatiku. Jadikan " jarak " ini sebagai sesuatu yang bisa membantu kita. 

Aku semakin tak paham. Tapi terus saja suamiku menjelaskan. Jadikan sebagai sumber inspirasi kita. Inspirasi untuk menaklukkan dunia. "Bisnis" katanya meyakinkan. Caranya? tanyaku menyela. 

Belahan jiwaku ini mulai bercerita bagaimana dia jalan-jalan ke kota Surabaya kemudian menemukan ide di Pasar Turi, sebuah pasar tempat grosir terbesar di Jawa Timur.

Mulailah aku mengerti dan memahami ke mana arah cerita pasanganku. "Usaha baru" ya usaha untuk memperbaiki pendapatan. Kemudian aku mulai mengamati dan sering bertanya kepada siswaku tentang  berapa harga beli sepatu dengan merek-merek terkenal tersebut. Aku agak tercengang ketika mereka menyebut harga-harga tersebut. Jauh perbedaannya, pikirku. 


Bikin toko sepatu. Itulah ide kami. Sepatu dengan merk yang bagus, merk yang terkenal. Eagle. Ardiles, Specs, New Era, Carvil dan merk-merek lain yang bisa terjangkau harganya saja kita hadirkan. Untuk mengatasi tantangan modal terbatas kami harus selektif dalam menentukan sepatu merek apa yang kami ambil. Tentunya barang harus berkualitas, banyak peminatnya dan cepat laku. Itulah peluang.

Peluang ini sudah kami tangkap. Walaupun jiwa bisnis belum kami punya. Jiwa yang mampu menciptakan nilai tambah dari keterbatasan dalam upaya menciptakan nilai tambah. Akan tetapi hati kami sudah bertekad akan berusaha. Yah berusaha untuk mewujudkannya yakni dengan menangkap peluang bisnis ini dan mengelola sumber daya untuk mewujudkannya.


Benar ternyata. Toko sepatu kami yang baru hadir di kecamatan Tanjung ini bisa diterima di hati masyarakat. Banyak orang-orang yang datang membeli sepatu-sepatu kami.   Utamanya anak-anak muda. Anak-anak SMA. 


Toko Sepatu Aulia. Itulah nama tokonya. Sekitar bulan Agustus tahun 2009 dibuka. "Aulia" aku ambil dari nama anak pertamaku. Dan perlahan-lahan, sudah mulai dikenal oleh masyarakat. Jika toko lain tidak buka malam hari, toko kami buka sampai malam hari. Ini bertujuan mengenalkan toko baru kami. Walau tidak ada yang membeli, minimal masyarakat tau ada toko baru di daerah kami. 


Perang harga mulai kuhadapi. Tak mudah menghadapinya. Tak mudah menawarkan barang-barang kepada masyarakat. Rata-rata mereka menawar harga setengahnya. Mirip teori di pasar-pasar. Terus dan terus saja masyarakat menawar harga setengahnya. Walau hatiku agak teriris, kulayani juga masyarakat ingin bertanya-tanya dan melihat-lihat saja. Sabar, ini kata hatiku meyakinkan pada diriku sendiri. 


Hadirnya toko sepatu Aulia ini hendak menawarkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak lazim di daerahku. Harga asli dan tanpa perubahan harga bandrol. 

Perubahan image tentang harga asli dan bandrol asli dari pabrik. Kami menawarkan hal ini dan memberikan hadiah plus diskon sebesar 10 persen dari harga bandrol. Sulit untuk meyakinkan. Karena mereka yang datang ke toko, rata-rata tidak begitu saja percaya bahwa sepatu yang kami tawarkan adalah sepatu bermerk. Mungkin karena toko yang kami tempati kurang mewah. Jadi dikira barang-barang yang dijual adalah barang tiruan alias kawe. 


Tujuan toko Aulia hadir untuk merobohkan  mindset bahwa untuk mendapatkan sepatu yang bagus dan bermerk tidak harus mahal. Murid-murid SMA tempat kami mengajar adalah sasaran kami. Tak heran beberapa bulan saja toko kami berkembang pesat. Dan menjadi salah satu toko Idola di daerah kami, Kecamatan Tanjung. Yang pada waktu itu belum menjadi Kabupaten  Lombok Utara. 

Aku sependapat dengan Scott Gerber dalam 10 tips sukses memulai bisnis ini mengemukakan bahwa untuk sukses memulai bisnis tidak selalu berjalan lancar, diperlukan beberapa keahlian dan langkah yang harus dilakukan dengan benar. Bahkan ada pemikiran yang berkata bahwa tidak semua orang bisa menjadi pengusaha. Tapi sebenarnya, semua orang bisa  menjadi pengusaha jika mau belajar dan bekerja keras. Seperti inilah tekad kami berdua untuk mewujudkan toko impian kami.

Moment lebaran dan tahun ajaran baru, biasanya banyak menyita waktu. Kita sangat disibukkan dengan toko dan berjualan. Untungnya waktu-waktu tersebut kegiatan di sekolah sedang tidak sibuk.  Senang tapi capek. Senang ketika toko banyak yang membeli. Capek karena harus melayani pembeli-pembeli yang kadang cerewet dan banyak maunya. Kami sadar bahwa Pembeli adalah raja, sehingga aku lakukan semuanya dengan senang hati dan ihlas.


Dari berjualan sepatu inilah aku bisa menaklukkan dunia. Dunia tempat segala sesuatu. Segalanya perlu uang. Walaupun uang bukan segalanya. Yang dulunya untuk pergi ke kota kita harus menunggu mobil "engkel", mobil angkutan umum yang tidak bisa ditunggu setiap saat itu sekarang sudah tidak lagi. 


Yang dulunya untuk membeli kebutuhan sehari-hari harus menunggu tanggal satu, kini sudah tidak lagi. Yang dulunya hanya mimpi memiliki kebun-kebun durian, sekarang sudah menjadi kenyataan. Yang dulunya untuk menyekolahkan anak-anak di tempat yang paling bagus kami masih harus berpikir lagi, sekarang sudah tidak lagi. Segalanya dimudahkan oleh Allah untuk meraih apa yang kami cita-citakan. 


Alhamdulilah. Berkali-kali bahkan beribu-ribu kali kita berdzikir karena Kemurahan Allah ini pada kehidupan kami. 


Berdoa, bersabar, kerja keras, tak pantang menyerah dan ihlas harus selalu kami miliki. Sifat dan sikap yang tak bisa memilih salah satu. Semuanya harus dikolaborasilan. jika ingin sukses. 

Jatuh bangun sudah menjadi hal biasa bagi kami. Apalagi cemoohan para tetangga yang kurang suka. Cemoohan dan cibiran aku jadikan sebagai pelecut jiwa kami dalam usaha baru ini. Dan aku anggap sebagai pelangi kehidupanku. Kini sudah tahun ke-22 aku buka bisnis ini. Alhamdulillah kini aku bisa menempati tiga ruko sekaligus. 

Bagaimana Sahabat, tertarik? Ayo bisnis sampingan selain tugas pokok kita sebagai seorang Pendidik Anak-anak Bangsa.





Comments

Popular posts from this blog