Berjuang Bersama Pasangan

                                                   

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,”sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”


    Aku bernama Hilda. Hilda Imroatul Azizah. Nama pemberian orang tuaku. Banyak orang suka dengan namaku. "Nama yang indah" kata salah satu orang yang menyampaikan kepadaku. Seperti biasa senyumku selalu mengembang saat orang memuji namaku. Ayahku seorang pensiunan dan Ibuku seorang pedagang keliling. Setiap hari Ibuku selalu menjajakan dagangannya kepada orang-orang yang dekat dengan rmahku sampai yang lumayan jauh dari rumahku. Kadang aku juga diajak jika Ibuku banyak pesanan. Pesanan dari para pelanggan.

    Kewalahan aku membawanya. Karena keranjang yang disodorkan kepadaku begitu penuh dengan sayuran dan lauk pauk. Setelah berjalan lumayan jauh aku, yang selalu berjalan cepat-cepat dipanggil.  "Stop kita berhenti di sini" kata Ibuku. Aku disambut oleh tiga orang perempuan sebaya dengan ibuku. Diambilnya semua sayuran dan lauk yang aku bawa. "Alhamdulillah" gumamku. Aku melihat Ibuku dengan cekatan menurunkan barang-barang yang dibawanya. Tentu lebih banyak dan lebih berat dari yang aku bawa. Keringatku bercucuran. 

    Tak kurasakan walau keringatku bercucuran saat melihat ibuku langsung membantu pemilik rumah dengan cekatan untuk memasak. Tak ada rasa lelah rupanya ibuku ini, pikirku.Seolah ada yang memandu satu persatu dikerjakan oleh ibuku dengan cepat. Dua jam lamanya aku memperhatikan ibuku memasak. Akhirnya semua masakan siap untuk dihidangkan. Setelah itu, aku lihat ibuku pamit. Pamit kepada yang punya rumah. Makanan dan amplop kecil disodorkan kepada ibu. 

    Aku penasaran. Ingin cepat-cepat melihatnya. Melihat isi amplop. Boleh aku buka, Bu? tanyaku. Sambil menaruh semua barang-barang yang kami bawa, aku segera membukanya. Segini..Bu. Ini uang apa? Kok sedikit Bu. Tanpa mendengar perkataan Ibu, aku nyeletuk. Bu, seharian kita membantu orang itu, kita dikasi segitu. "Huss". Kata Ibuku sambil menutup mulutnya. Kita ini harus bekerja dengan ihlas, berapa pun dikasi, itulah rezeki kita" jelasnya. 

    Sejak itulah aku belajar keras dan bekerja keras agar kelak aku tidak diperlakukan dan disepelekan oleh orang lain. Tidak boleh ada orang lain memperlakukanku seperti yang dilakukan kepada ibuku. Rasanya hati ini teriris-iris. Jadilah aku pribadi yang tegar. Tidak suka menyerah. Calon suamiku adalah seorang pendidik. Profesi yang sama dengan diriku. Hanya saja mata pelajarannya berbeda. 

    Pekerja keras, itulah tipe calon imamku. Sama dengan diriku. Tahun 1995 aku melangsungkan pernikahan. Tepatnya tanggal 12 November 1995. Tahun yang penuh keberkahan. Tahun yang penuh dengan kebahagiaan. Khususnya bagiku. Betapa tidak. Allah memberikan rahmadNya kepadaku. Pekerjaan dan Pernikahan. Lengkap sudah kebahagiaan kami. Di tahun itu pula SK suamiku turun. SMA Negeri 1 Bayan. Tempat yang lumayan jauh dari Lembar, sebuah transportasi darat saat itu. Aku milih tinggal di Jawa. Tak ikut serta. Setahun berikutnya aku memutuskan untuk mengikuti suami pindah ke Lombok. 

    Setelah putri pertamaku berumur 3 tahun lahirlah putra keduaku tahun 2001. Lengkap sudah kebahagiaan kami. Seperti harapan semua keluarga, ada perempuan dan ada laki-laki. Tidak seperti anak pertamayang lahir di Jawa, anak keduaku lahir di Lombok. Lahir tanpa ditemani sang Nenek dan Kakek. Mereka ingin melihat cucunya. Kebetulan mendekati lebaran.

    Lebaran identik dengan mudik. Apalagi di Jawa. Rasanya kurang afdhol jika lebaran tidak mudik. kami pun berencana mudik. Karena di samping menjadi seorang pendidik, kami juga seorang pedagang. Jadilah sibuk dengan segala usaha di toko. Pilihan yang tepat pulang setelah sholat Iedul Fitri.  

      Pagi setelah sholat Ied, kami pun bersiap-siap berangkat mudik. Tas dan sedikit perbekalan di jalan sudah aku bawa di depan rumahku. Tinggal menunggu mobil angkutan (engkel). Karena lumayan lama menunggu, suami memutuskan untuk melihat mobil angkutan dengan berkendara motor. 

    Belum ada 5 menit. Aku pun mendapat berita. "Bu, lebih baik Ibu pulang dulu membawa anak-anak ke rumahnya, Bapaknya ada di rumah sakit" kata temanku menyampaikan kabar. Tak percaya rasanya. Baru saja suami di dekatku berbicara, "tunggu sebentar, aku lihat mobilnya". "Tak ada tanda apa-apa, tak ada mimpi buruk" batinku dalam hati. Bergegas aku pulang sambil membawa barang-barang dan anak-anak balek ke rumah. Untunglah bibik, pembantu setiaku masih ada. Setelah menitipkan anak-anak langsung aku menuju rumah sakit.

    Tak berapa lama aku pun sampai. Karena jarak rumah dengan rumah sakit agak dekat. Banyak teman-teman guru berkumpul di sana. Di sana suami ditemani banyak orang. Aku langsung panik dan tiba-tiba mataku gelap. Setelah bangun aku baru tau jika aku pinsan. Dunia terasa gelap. Gelap dan menyeramkan. Kutenangkan diriku. Kutarik napas dalam-dalam sambil mulutku terus mengucapkan istighfar. Astahgfirullah hal adzhim. Astahgfirullah hal adzhim.

    Setelah kurasakan sedikit kuat, kudekati suamiku. Dia tersenyum dan berkata "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit luka di kakiku" katanya kepadaku. Senyuman itulah yang membuatku berhenti menangis. Berhenti takut. Berhenti membayangkan yang buruk-buruk. Sedikit demi sedikit aku pun mulai tegar. 

    Dokternya di mana?.Dokter jaga tidak ada, karena memang saat itu adalah hari pertama hari raya Iedul Fitri. Sepi rumah sakit. Petugasnya sangat terbatas. Sementara kaki suami tidak bisa digerakkan. Tak bisa diangkat. Badannya pun tak bisa digerakkan. 

    Bu, tau tidak bagaimana suaminya kecelakaan tadi? tanpa menunggu jawaban dariku dia terus saja bercerita. Kebetulan tadi saya ada di belakangnya. saya mau pergi ke rumah adek di Tanjung. Saya lihat mobil engkel berwarna biru itu tiba-tiba menyeruduk motor yang dikendarai. Suaminya terpelanting, diseret beberapa meter, terus tiba-tiba mobilnya berhenti dan suaminya berda di bawah gardan. 

    Innalillahi..Ya allah, Astaghfirullah.. Kata-kata itu terus aku ucapkan setelah mendengar cerita itu. Sementara itu ada yang menyarankan untuk dibawa ke tukang urut. Ke Leneq saja, Bu. Di sana ada tukang urut yang hebat. Tukang urut yang cekatan. Pasiennya dari berbagai tempat. Dari Lombok dan luar Lombok, katanya meyakinkanku.

    Leneq itu di mana, tanyaku. Lombok Tengah katanya. "Tidak adakah yang lebih dekat" tanyaku. Tidak ada Bu, di sana lebih bagus. Bawalah cepat ke sana. Kata temanku meyakinkan. Akhirnya aku minta tolong kepada petugas mobil Ambulance untuk mengantarkan pergi ke Leneq. Pertama jelas menolak karena kendaraannya adalah milik rumah sakit. Setelah kumohon berkali-kali akhirnya kami pun diantar.

    Setelah membawa perlengkapan secukupnya, aku pun diantar menuju tempat yang dimaksud. Perjalanan cukup lama. Hampir dua jam diperjalanan. Setelah tanya sana, tanya sini ketemulah alamatnya. 

    Alhamdulillah. Rupanya sakit yang diderita tak dirasakan oleh suami. Saking inginnya cepat sembuh. Tak ada air mata yang mengalir terus menerus. Tak ada keluhan yang berlebihan keluar dari mulutnya. Hanya Istighfar dan istighfar yang aku dengar. Padahal aku melihat kaki sebelah kanannya keluar dari pangkal pahanya. Allahu Akbar. Saat itulah aku melihat ketegaran suamiku.

    Lagi-lagi karena hari itu adalah hari pertama lebaran, tukang urutnya pun juga tidak ada di rumah. Dia pergi silaturrahmi ke rumah keluarganya. Hampir 2 jam menunggu akhirnya bapak yang ahli mengurut atau sangkal putung itu datanglah. 


    Tanpa banyak bicara, bapak setengah tua itu terlihat sangat cekatan mengambil tindakan. Dibaringkan suamiku dekat dengan tembok rumahnya. Seolah sedang mengukur, kaki kanan dan kiri dilihat. tampak berbeda panjangnya. Tiba-tiba lelaki itu mengambil posisi berdiri. Setelah diluruskan kakinya, ditariklah kaki suamiku agak keras sampai kakinya lurus. Aku tak tega mendengar erangan itu. Padahal sebelumnya tak ada. 

    Ibu, katanya menjelaskan. Untung cepat dibawa ke sini. Jika nunggu sehari atau dua hari agak sulit, Bu. Karena pangkal pahanya akan terisi dengan daging, katanya. Aku tak paham penjelasan laki-laki itu. Tapi aku jawab iya, iya, dan iya saja. Kubuka-buka alo dokter dalam telepon selulerku. Dan..ketemu. 

    Rupanya inilah yang dialami suamiku dalam istilah kesehatan  dislokasi. Dislokasi adalah kondisi ketika tulang di sendi bergeser atau keluar dari posisi normalnya. Semua persendian di tubuh pada tubuh kita dapat mengalami dislokasi, terutama bila terjadi benturan akibat kecelakaan atau terjatuh ketika berolahraga.

    Pernah aku baca bahwa bila terjadi dislokasi, jaringan di sekitar sendi, seperti tendon, otot, dan saraf,  bisa mengalami cedera. Dislokasi sebaiknya segera ditangani. Jika tidak, sejumlah komplikasi serius dapat terjadi. Salah satunya adalah kerusakan pada saraf di area sendi. Oleh karena itu, dislokasi perlu segera ditangani untuk mengurangi risiko terjadinya cacat permanen. 

    Untuk mengurangi cacat permanen inilah aku tak sabar menunggu terlalu lama. Menunggu tukang urut jauh lebih lama daripada mengambil tindakannya. Setelah selesai dengan perasaan lega kami pun pamit pulang. Karena aku juga khawatir terhadap luka yang ada di tangan sebelah kiri dan di lututnya. Belum diobati. Darah terus saja mengalir. Beberapa menit sekali aku harus menyeka pakai tisue.

    Lima bulan lamanya suamiku terbaring di atas ranjang. Andai bergerak itu karena dibantu kursi yang dibawahnya aku selipkan kardus, agar bisa licin kalau bergerak. Kursi roda belum aku punya. Karena cukup lama tidak bergerak, kaki sebelah kanan terlihat agak mengecil. Maka pergilah aku ke 




PROFIL PENULIS

Hj. Maria Ulfa, S.Pd, M.Pd, lahir di Lumajang, 19 Juli 1971. Menempuh masa pendidikan mulai dari SD Islam Tompokersan Lumajang, SMP 1 PGRI  Lumajang, SPG Negeri Lumajang, kemudian melanjutkan S1 di IKIP Malang/UM, Universitas Malang. Lulus tahun 1995. Tahun 2016 sitas Nahdatul Wathan Selong Lombok Timur yang difokuskan belajarnya di Lombok Utara. Sejak tahun 1997 hingga kini ia menjadi guru di Sekolah Menengah atas Negeri 1 Tanjung Kabupaten Lombok Utara. Di sela-sela kesibukan sebagai pengajar ia juga aktif di Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Lombok Utara sebagai bendahara. Ia aktif juga di MUI (Majelis Ulama Indonesia) Lombok Utara sebagai Komisi Pemberdayaan Perempuan dari periode 2020-2025 mendatang. Penulis bergabung di KBMN gelombang 28 tahun 2023. Surel: mariaulfa97@guru.sma.belajar.id / WA : 085337807840. 

    

Comments

Popular posts from this blog