Mengobati Trauma: Menulis Antologi Cerpen

    Tak ada yang sanggup menolak jika takdir itu harus terjadi. Takdir tentang gempa. Gempa  yang melanda Kabupaten Lombok Utara, 5 Agustus 2018. Getaran saat itu  sangat kuat dan agak lama. 7,0 SR.  Pusatnya di Lombok Utara, tempat tinggal kami. Termasuk sekolah kami, SMA Negeri 1 Tanjung. Karena kuatnya getaran saat itu banyak rumah-rumah roboh seketika. Rusak parah dan rumah-rumah ibadah pun juga ikut roboh. Tidak itu saja. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Luka parah karena tertindih tembok, terindih bangunan, terjepit, bahkan ada yang terjebak di toko yang roboh, terjebak dalam kubah masjid yang roboh. Saat itu seluruh masyarakat bingung dan panik.

    Panik inilah yang menimbulkan banyak korban. Rumah hancur, hidup juga hancur. Harta benda yang selama ini dikumpulkan sedikit demi sedikit, hancur berantakan. Semua ini menyisakan trauma. Trautama pikiran juga perasaan. Tangis pilu menghiasi kehidupan kami. 

    Satu bulan kejadian telah berlalu, namun masih saja  trauma itu tidak bisa hilang. Ini semua meninggalkan beban kami sebagai korbannya. Meski tak mengalami cedera fisik, tapi reaksi emosional dan trauma ini menyebabkan efek samping jika tidak ditangani dengan serius. Berpuluh-puluh dermawan bahkan beratus-ratus datang membantu kami. Termasuk tim trauma healing. Beragam cara dilakukan untuk menghibur masyarakat termasuk anak didik kami.  

    Anak didik kami, utamanya yang kelas 12 bersikeras untuk masuk sekolah dan ingin belajar kembali. Belajar dengan fasilitas yang seadanya. Mereka belajar di bawah-bawah pohon besar. Di tengah lapangan sampai di bawah tenda-tenda yang ada. Tenda-tenda yang telah kami dapatkan dari bantuan para donatur. Tak gampang meraihnya. Kadang kami harus mengenyampingkan rasa malu karena harus berebut tenda.     Kami para pendidik merasa sangat bersyukur karena waktu itu tenda adalah langka. Walau kita punya uang, tak ada gunanya. Barangnya sulit dicari. 

    Puas, itulah saat melihat anak didik bisa belajar dengan tertib.  Puas melihat mereka belajar dengan antusias. Belajar satu hari saat itu paling lama hanya 30 menit. Kemudian berangsur-angsur bertambah bertambah dan bertambah jam belajarnya.  

    Tak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangan dan pengorbanan para pemimpin di daerah kami sangat luar biasa. Namun perlu waktu yang agak lama untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan. Bangkit untuk membangun kembali rumah-rumah yang rusak. Bangkit dari perasaan-perasaan takut dan menyedihkan  yang kami alami. 

    Berapa pun banyaknya bantuan dari luar, tanpa diri pribadi sendiri bangkit tidak mungkin semua akan tercapai. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu kami saat itu. Membantu mengatasi perasaan, pikiran dan perilaku agar masyarakat bisa pulih.

    Umumnya pasca bencana orang banyak yang merasa cemas, gugup, kewalahan atau sedih yang mendalam.Juga mudah tersinggung atau lebih murung dari biasanya. Banyak yang datang tanpa diundang untuk membantu kami. Membantu dengan tulus untuk mengatasi trauma pasca bencana.

    Untuk mengatasi trauma ini banyak yang bisa dilakukan. Pertama beri waktu untuk menyesuaikan diri. Kedua, minta dukungan. Ketiga, komunikasikan  pengalamanmu. Keempat, Bergabung dengan kelompok pendukung, Kelima, menerapkan hidup sehat untuk mencegah stres. Terakhir, lakukan kembali rutinitas harian.

    Penulis sebagai seorang penanggung jawab Gerakan Literasi Sekolah, tertarik mengatasi dengan cara nomor tiga, komunikasikan pengalamanmu. Melalui cara inilah penulis mengadakan kegiatan menulis cerita sejarah dalam bentuk cerita pendek. Sejarah gempa dalam bentuk cerita rekon imajinatif. Hasilnya luar biasa. Banyak naskah yang masuk. Akhirnya penulis jadikan sebuah buku Antologi Cerpen tentang Romantika dan Duka Guncangan Gempa Bumi di Lombok Utara (fiksi sejarah) berjudul "Cinta Dibalik Duka" 


Comments

Popular posts from this blog